Pertumbuhandan Perkembangan Tulang. Pada awal adanya janin,semua tulang terbentuk dari tulang rawan yang mana tulang ini relative mudah sekali untuk berubah secara bertahap dapat berubah menjadi keras karena proses pembentuakn tulang ( osifikasi ) pembentukan tulang ini dibagi menjadi 2 peristiwa yang penting yaitu penyerapan Ketikamasih dalam kandungan, sistem rangka tersusun dari tulang rawan. Namun, setelah lahir, proses pembentukan tulang keras baru dimulai. Proses ini akan terjadi secara berkelanjutan semasa hidup. Jumlah tulang lunak pun akan semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Tulang dalam tubuh juga akan mulai menua dan rapuh saat memasuki usia lanjut. 9Perbedaan tulang rawan dan tulang keras. Proses pembentukan tulang pada tubuh manusia dimulai ketika manusia masih berupa embrio berusia enam atau tujuh minggu dalam rahim ibu. Tulang adalah rangka atau bagian rangka tubuh manusia. Berdasarkan Encyclopedia Britannica (2015), susunan tulang membentuk tubuh dari atas hingga bawah, mulai Manusiamemiliki rangka tubuh ketika dalam tahap perkembangan embrio. Rangka tubuh dalam masa embrio masih berupa tulang rawan (kartilago). Kartilago dibentuk oleh sel-sel mesenkim. Di dalam kartilago tersebut akan diisi oleh osteoblas. Osteoblas merupakan sel-sel pembentuk tulang keras. Osteoblas akan mengisi jaringan sekelilingnya dan 8 Saat perkembangan embrio, rangka tubuh masih berupa tulang rawan. Selanjutnya rongga dalam tulang rawan tersebut akan terisi oleh sel-sel pembentuk tulang yang disebut . ProsesPembentukan Tulang. Manusia memiliki rangka tubuh ketika dalam tahap perkembangan embrio. Rangka tubuh dalam masa embrio masih berupa tulang rawan (kartilago). Kartilago dibentuk oleh sel-sel mesenkim. Di dalam kartilago tersebut akan diisi oleh osteoblas. Osteoblas merupakan sel-sel pembentuk tulang keras. Pertanyaan saat perkembangan embrio rangka tubuh masih berupa tulang rawan selanjutnya rongga dalam tulang rawan tersebut akan terisi oleh sel-sel pembentuk tulang yang disebut a. osteoblas b osteosit c. kondrosit d kondroblas e. abduksi Saatperkembangan embrio, rangka tubuh masih berupa tulang rawan. Selanjutnya rongga dalam tulang rawan tersebut akan terisi oleh sel-sel pembentuk tulang yang disebut. a. osteoblas b. osteosit c. kondrosit d. kondroblas e. kondrin jNkOQqp. Pada langkah berikutnya, sel osteoblas mulai mengeluarkan atau menghasilkan serat berupa protein yang membentuk matriks tulang atau osteoid. Setelah itu, osteoid akan menyatu dengan kalsium untuk membentuk tulang berkalsium. Tulang yang sudah dikalsifikasi ini akan menyerap sel-sel osteoblas dan mengubah bentuknya menjadi osteosit. 3. Periosteum and Weaving Langkah berikutnya, osteoid diletakkan secara acak di sekitar pembuluh darah terus-menerus. Kemudian, struktur yang disebut dengan trabeculae terbentuk di sekitar pembuluh darah dan ditemukan pori-pori pada lokasi pembuluh darah, sehingga membentuk tulang spongiosa. Sementara itu, pembuluh darah yang berada di luar tulang spongiosa menjadi padat dan berubah bentuk menjadi periosteum. 4. Pembentukan tulang keras Langkah selanjutnya pada pembentukan tulang keras dengan tipe osifikasi intermembran adalah pembentukan tulang keras. Saat trabeculae menebal di dalam tulang spongiosa, sel-sel osteoblas yang terdapat di sekelilingnya akan terus membentuk osteoid. Osteoid nantinya akan mengeras dan membentuk tulang keras di sekitar tulang spongiosa. Selama proses ini berlangsung, sumsum tulang merah akan mulai bermunculan pada lokasi pembuluh darah di rongga-rongga spongiosa. Osifikasi endokondral Menurut Seer Training Module oleh National Cancer Institute, proses pembentukan tulang tipe osifikasi endokondral melibatkan penggantian model tulang rawan dengan tulang biasa. Proses ini biasanya terjadi pada tulang panjang, contohnya tulang tungkai. Sebagian besar tulang pada kerangka tubuh manusia terbentuk menggunakan osifikasi endokondral, oleh sebab itu tulang-tulang yang melalui proses pembentukan ini disebut tulang endokondral. Pada proses pembentukan ini, tulang akan terbentuk dari model tulang lunak hialin. Selama kurun waktu tiga bulan setelah pembuahan, perikondrium yang mengelilingi model tulang rawan hialin berinfiltrasi dengan pembuluh darah dan osteoblas, kemudian berubah menjadi periosteum. Sel osteoblas membentuk bone collar pada tulang keras di sekitar diafisis. Di saat yang bersamaan, tulang rawan di tengah diafisis mulai perlahan hancur. Osteoblas, kemudian, menembus tulang rawan yang hancur dan menggantikannya dengan tulang spongiosa. Hal tersebut menyebabkan pembentukan pusat osifikasi primer. Proses osifikasi akan berlanjut dari pusat ini menuju ke ujung tulang. Setelah tulang spongiosa terbentuk pada diafisis, sel-sel osteklas akan memecah tulang yang baru terbentuk untuk membuka rongga medular. Berikut adalah langkah-langkah yang terjadi dalam proses pembentukan tulang dengan osifikasi endokondral 1. Pembentukan periosteum collar Pada langkah ini, periosteum terbentuk di sekitar tulang rawan hialin. Lalu, sel osteogenik dibedakan menjadi osteoblas. Sel osteoblas ini kemudian mengeluarkan cairan serat berupa protein di luar tulang rawan yang disebut dengan osteoid. Hasil akhir dari langkah ini adalah terbentuknya bone collar pada bagian luar tulang rawan. 2. Pembentukan rongga Saat bone collar terbentuk, tulang rawan yang terdapat pada pusat akan mengalami osifikasi atau proses pembentukan tulang. Tulang rawan yang menjadi pusat ini disebut sebagai pusat osifikasi utama. Proses pengerasan tulang ini menyebabkan bagian dalam dari tulang rawan tidak berhasil untuk ditembuh oleh difusi nutrisi. Alhasil, bagian dalam dari tulang rawan perlahan mulai memburuk dan rongga-rongga pun mulai terbentuk. 3. Invasi vaskular Kemudian, pembuluh darah yang terdapat di dalam periosteum akan melalui atau melewati tulang keras dari bone collar dan memasuki rongga dalam tulang rawan. Rongga yang dilewati oleh pembuluh darah disebut sebagai foramen nutrisi. Ada banyak komponen lain masuk melalui foramen nutrisi seperti saraf, limfatik, osteoklas, osteoblas, nutrisi dan lain-lain. Kemudian, tulang rawan yang tersisah akan dipecah oleh osteoklas dan osteoblas mengeluarkan trabaculae atau tulang spongiosa. 4. Elongasi Saat pembuluh darah, osteoklas, dan osteosit terus menyerang tulang, poros tulang akan mulai memanjang. Alhasil, rongga meduler terbentuk dan diafisis perlahan memanjang selama proses perkembangan embrio. Tak hanya itu, pembuluh darah berkembang ke tulang rawan hialin di ujung epifisis tulang panjang membentuk pusat osifikasi sekunder. 5. Osifikasi epifisis Hal ini hampir sama dengan dengan invasi vaskular. Hanya saja, yang terbentuk bukanlah tulang keras melainkan tulang spongiosa. Selain itu, tulang rawan hialin juga tertinggal di ujung tulang disebut sebagai tulang rawan artikular dan piringan epifisis terbentuk. Tulang rawan artikular dan piringan epifisis adalah dua hal yang masih tersisa dari model tulang rawan hialin yang asli. Proses pertumbuhan tulang manusia Setelah memahami proses pembentukan tulang, kini saatnya Anda memahami proses pertumbuhannya. Pada dasarnya, proses pertumbuhan tulang hampir sama dengan proses osifikasi endokondral. Pada saat itu, tulang rawan yang berada pada piringan epifisis terus tumbuh dengan cara mitosis. Sementara, kondrositis yang terdapat di samping diafisis akan menua dan mengalami kerusakan. Lalu, sel osteoblas bergerak atau berpindah dan menyebabkan ofisikasi atau mengeraskan matriks untuk membentuk tulang. Proses ini akan terus berlangsung sejak Anda masih anak-anak dan remaha hingga pertumbuhan tulang rawan melambat dan akhirnya benar-benar berhenti. Saat pertumbuhan tulang rawan berhenti pada usia dua puluhan, piringan atau lempeng epifisis akan sepenuhnya mengeras. Hal ini menyisakan garis epifisis tipis dan tulang sudah tidak bisa lagi tumbuh atau memanjang. Pertumbuhan tulang berada di bawah pengaruh hormon pertumbuhan dari kelenjar pituitari anterior dan hormon seks yang berasal dari testis dan ovarium. Selamat datang di web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang Osifikasi? Mungkin anda pernah mendengar kata Osifikasi? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang pengertian, proses, ciri, tahapan, struktur, fungsi dan penyakit. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan. Pengertian Proses Pembentukan Tulang Osifikasi Beberapa tulang yang mengorganisasikan rangka tubuh manusia saat kita bayi yakni sekitar 270 tulang. Akan tetapi, sesudah ketika kita dewasa jumlah tulang tersebut akan menyusut sekitar 206 tulang. Walaupun jumlah tulang saat kita bayi lebih banyak, tetapi biasanya tulang bayi belum berperan dengan komplet untuk membantu tubuhnya. Tulang bayi harus melewati proses pembentukan tulang osifikasi supaya bisa berperan seperti semestinya. Lebih kompletnya, Osifikasi ialah prosedur dimana organ mesenkim dan kartilago diganti berupa tulang selama perkembangan. Prosedur pembentukan tulang berlangsung pada masa embrio. Saat, masih dalam bentuk embrio, rangka tubuh terdiri atas tulang rawan yang terjadi dari organ-organ mesenkim. Proses pembentukan tulang berlangsung secara berkepanjangan dan menimbulkan meningkat besarnya ukuran tulang. Organ yang berfungsi dalam proses pembentukan tulang ialah osteoblas dan osteoklas. Osteoblas ialah sel pembentuk tulang keras yang ada dalam tulang rawan, osteoblas tersebut menyimpan membran disekitarnya dengan membentuk organ tulang secara konsentris. Setiap organ tulang akan mengitari pembuluh darah dan serat saraf membentuk sistem Havers. Selanjutnya, di sekitar tulang tersebut akan terwujud larutan protein pembentuk kerangka tulang yang akan memadat karena terbentuk garam kapur dan garam fosfat. Proses Pembentukan Tulang Osifikasi Berikut ini terdapat 2 proses pembentukan tulang osifikasi yakni sebagai berikut 1. Osifikasi Intramembran Osifikasi intramembran tersebut berlangsung saat selaput menyerabut diubah oleh membran tulang. Osifikasi intramembran hanya berlangsung di tulang pipih spesifik. Berikut ini terdapat beberapa langkah-langkah osifikasi intramembran antara lain Tulang spons mulai meningkat di inti osifikasi yakni lokasi dalam selaput. Sumsum tulang merah terwujud dalam jaringan spons, disertai dengan pembentukan tulang keras pada bagian luarnya. 2. Osifikasi Endokondral Proses tersebut berlangsung saat tulang rawan hilang dan diubah oleh membran tulang. Osifikasi endokondral berlangsung pada separuh besar tulang tubuh. Berikut ini terdapat beberapa langkah-langkah osifikasi endokondral antara lain Pada inti proses pembentukan tulang primer, tulang rawan hialin remuk dengan membentuk rongga. Kuntum periosteum yang terdiri atas osteoblas, osteklas, sumsum merah, saraf dan pembuluh darah limfa mendatangi rongga. Osteoblas memperoleh membran tulang spons. Osteoklas membelah membran tulang spons yang baru terwujud lalu menata rongga medula. Rongga medula akan semakin besar saat menjejaki penyaluran inti osifikasi primer pada bagian ujung tulang. Tulang rawan akan diubah oleh membran tulang keras pada bagian luar tulang. Inti osifikasi sekunder terwujud dibagian epifisis dalam tulang panjang. Kuntum periosteum terwujud, tetapi membran tulang spons yang kemudian meningkat tidak diubah oleh rongga medula. Tulang rawan yang tertinggal di luar epifisis akan membentuk tulang rawan persendian. Sementara tulang rawan yang tertinggal diantara inti peningkatan osifikasi primer dan sekunder yang akan membesar membentuk pipih epifisis. Ciri-Ciri Otot Rangka Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri otot rangka yaitu Kebolehujaan irritability/excitability Kemampuan otot bergerak balas pada rangsangan dengan mudah dan cepat. Kebolehkuncupan contractibility Kemampuan otot untuk memendek apabila menerima rangsangan. Kebolehpanjangan extensibility Kemampuan otot untuk memanjang melebihi panjang asal. Kebolehanjalan elasticity Kemampuan otot untuk kembali semula kepada panjang asal selepas memendek atau memanjang. Tahapan Osifikasi pada Tulang Pipa Proses osifikasi pada tulang pipa terjadi dalam beberapa tahap, yaitu Penulangan diawali dari tulang rawan yang banyak mengandung osteoblas. Bagian yang paling banyak mengandung osteoblas adalah epifisis dan diafisis. Terjadi perkembangan pusat osifikasi primer yang disertai dengan perluasan bone collar. Pada bagian sentral tulang terjadi perombakan sel-sel tulang reabsorpsi tulang sehingga pembuluh darah mulai masuk dan terbentuk rongga sumsum tulang. Pembentukan pusat osifikasi sekunder muncul pada setiap epifisis. Osifikasi sekunder ini menyebabkan pemanjangan tulang. Pembentukan tulang pipa sanggup dijabarkan melalui beberapa tahapan dimulai dari pembentukan tulang rawan sampai pengerasan matriks pada tulang, Berikut ini tahapan nya yaitu 1. Pembentukan Tulang Rawan Tulang rawan atau kartilago dibuat oleh sel-sel mesenkim. Tulang ini tersusun atas sel-sel tulang rawan yang disebut kondrosit. Kondrosit dibuat oleh kondroblas. Pada sentra osifikasi primer pada model tulang rawan, tulang rawan hialin pecah membentuk rongga. Bagian dalam kartilago terisi osteoblas. 2. Pembentukan Sel Tulang Osteoblas yang mengisi rongga pada kartilago melalui kuncup perisoteum mulai membentuk sel-sel tulang. Sel-sel tulang dibuat secara kosentris dari dalam ke luar. Melalui proses ini, osteoblas menghasilkan jaenteng tulang spons. Jaenteng spons ini nanti akan berganti menjadi rongga medula. 3. Pembentukan Sistem Havers dan Matriks Tulang Sel-sel tulang mengelilingi suatu pembuluh darah dan serabut saraf membentuk sistem Havers. Di sekeliling sel-sel tulang terbentuk senyawa protein yang akan menjadi matriks tulang. Pembuluh darah pada sistem Havers akan mengangkut zat fosfor dan kalsium ke dalam matriks yang menjadikan matriks mengeras. 4. Pembentukan Rongga Medula Ketika osteoklas merombak jaenteng tulang spons maka terbentuk rongga medula. Rongga ini akan semakin besar mengikuti penyebaran sentra osifikasi primer ke bab ujung tulang. Pada bab luar tulang, jaenteng tulang rawan digantikan oleh jaenteng tulang. 5. Pembentukan Pusat Osifikasi Sekunder Pusat osifikasi sekunder terbentuk di bagain ujung atau epifisis. Pada bab tersebut juga terbentuk periosteum yang mengandung osteoblas. Pembuluh darah pada bab sentra osifikasi primer disebut pembuluh darah epifisis. Osifikasi sekunder menjadikan pemantidakboleh tulang. 6. Pembentukan Tulang Rawan Persendian Tulang rawan persendian terbentuk dari tulang rawan awal yang tersisa di luar epifisis. Di bab epifisis akan terbentuk jaenteng tulang spons dan jaenteng tersebut akan berkembang atau tidak digantikan oleh rongga medula. Di antara kawasan sentra osifikasi primer dan sentra osifikasi sekunder terdapat sisa tulang rawan yang kemudian dikenal sebagai lempeng epifisis. Berikut ini adalah struktur tulang yaitu Periosteum Pada lapisan pertama kita akan bertemu dengan yang namanya periosteum. Periosteum merupakaan selaput luar tulang yang tipis. Periosteum mengandung osteoblas sel pembentuk jaringan tulang, jaringan ikat dan pembuluh darah. Periosteum merupakan tempat mlekatnya otot-otot rangka skelet ke tulang dn berperan dalam memberikan nutrisi, pertumbuhan dan reparasi tulang. Tulang Kompak Compact bone Pada lapisan kedua ini kita akan bertemu dengan tulang kompak. Tulang ini teksturnya halus dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki sedikit rongga dan lebih banyak mengandung kapur Calsium Phospat dan Calsium Carbonat sehingga tulang menjadi padat dan kuat. Kandungan tulang manusia dewasa lebih banyak mengandung kapur dibandingkan dengan anak-anak maupun bayi. Bayi dan anak-anak memiliki tulang yang lebih banyak mengandung serat-serat sehingga lebih lentur. Tulang kompak paling banyak ditemui pada tulang kaki dan tulang tangan. Tulang Spongiosa Spongy bone Pada lapisan ketiga ada yang disebut lapisan spongiosa. Sesuai dengan namanya tulang Spongiosa memiliki banyak rongga. Rongga tersebut di isi oleh sumsum tulang merah yang dapat memproduksi sel-sel darah. Tulang spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula. Sumsum tulang Bone Marrow Lapisan terakhir yang kita temukan dan yang paling dalam adalah sumsum tulang. Sumsum tulang wujudnya seperti jelly yang kental. Sumsum tulang dilindungi oleh tulang spongiosa seperti yang telah dijelaskan di bagian tulang spongiosa. Sumsum tulang berperan penting dalam tubuh kita karena berfungsi memproduksi sel-sel darah yang ada dalam tubuh. Fungsi Tulang Berikut ini adalah beberapa fungsi tulang yaitu Menahan jaringan tubuh dan memberi bentuk pada rangka, Misal tulang tengkorak memberi bentuk pada wajah. Melindungi organ organ tubuh seperti kranium tulang otak melindungi otak, tulang rusuk melindungi jantung dan paru-paru Pergerakan, Misal tulang dan otot merupakan alat gerak yang berkaitan erat. Tulang tidak dapat bergerak bila tidak dapat digerakan otot. Karena tulang tidak dapat bergerak dengan sendirinya tanpa bantuan otot sehingga tulang sebagai alat gerak pasif dan otot sebagai alat gerak aktif karena sebagai penggerak tulang. Tempat melekatnya otot untuk pergerakan tubuh Gudang menyimpannya mineral seperti kalsium dan hematopoesis. Kalsium berfungsi untuk mencegah osteoporosis dan melancarkan peredaran darah sedangkan hematopoesis adalah pembentukan komponen sel darah diamna terjadi proliferasi, maturasi dan diferensiasi sel yang terjadi secara serentak. Penyakit Pada Tulang Berikut ini adalah beberapa penyakit yang ada pada tulang yaitu Osteoklerosis kelainan tulang akibat peningkatan peningkatan kalsifikasi tulang karena hipoparatiroid Osteoporosis terjadi karena penurunan penulangan osifikasi akibat peningkatan resopsi penurunan pembentukan tulang Osteomalasia keadaan dimana terjadi penurunan mineralisasi tulang Fraktur patah tulang Osteomilitis inflamasi pada tulang Periostitis inflamasi pada periosteum. Demikian Penjelasan Materi Tentang Proses Pembentukan Tulang Pengertian, Proses, Ciri, Tahapan, Struktur, Fungsi dan Penyakit Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi. Proses Pembentukan Tulang – Mekanisme, Keras, Rawan & Gambarnya – Pada saat masih bayi, manusia mempunyai 270 tulang yang menyusun rangka pada tubuhnya. Yang jumlah tulang ini akan menjadi menyusut ketika manusia tersebut mulai tumbuh menjadi dewasa. Dan pada saat manusia dewasa, jumlah tulang tersebut hanya tinggal 206 tulang saja. Walaupun untuk jumlah tulang pada bayo lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah tulang saat dewasa, namun tulang bayi umumnya masih belum dapat berfungsi dengan sempurna dalam menopang tegaknya tubuh. Pada tulang-tulang bayi tersebut harus melalui proses osifikasi “proses pembentukan tulang” yang sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam hal ini sel-sel tulang dibentuk secara konsentris “dari arah dalam ke luar”, yang setiap sel-sel tulang akan mengelilingi pembuluh darah dan serabut saraf, membentuk sistem Havers. Selain itu, di sekeliling sel-sel tulang ini terbentuk senyawa protein pembentuk matriks tulang. Matriks tulang akan mengeras karena adanya garam kapur ” CaCO3″ dan garam fosfat “Ca3 PO42”. Di dalam tulang terdapat sel-sel osteoklas, sel-sel ini berfungsi menyerap kembali sel tulang yang sudah rusak dan dihancurkan. Adanya aktivitas sel osteoklas, tulang akan berongga. Rongga ini kelak akan berisi sumsum tulang. Osteoklas membentuk rongga sedangkan osteoblas terus membentuk osteosit baru ke arah permukaan luar. Yang dengan demikian, tulang akan bertambah besar dan berongga. Pembentukan Tulang Di Dalam Rahim Tulang manusia mulai tumbuh sejak dalam masa embrio, yang tepatnya ketika usia 6 hingga 7 minggu dari proses pembuahan di dalam rahim ibu. Dalam pertumbuhan tulang ini terus menerus berlangsung hingga tersusun lengkap pada usia kehamilan 3 bulan. Pada fase ini, proses pembentukan tulang dipengaruhi oleh kalsium dan hormon plasenta. Tulang yang terbentuk pun masih sangat lunak, akan tetapi ia akan terus tumbuh dan mengeras hingga proses persalinan tiba. Baca Juga Sistem Reproduksi Wanita Pembentukan Tulang Pada Bayi Setelah dilahirkan, proses pembentukan tulang pada bayi akan dipengaruhi oleh kalsium, yang aktivitasnya sehari-hari, serta di pengaruhi oleh hormon pertumbuhan. Hormon pertumbuhan yang berpengaruh dalam proses ini ialah osteoblas dan osteoklas. Yang kedua hormon tersebut bekerja secara bertolak belakang. Osteoblas bekerja dengan memicu proses pertumbuhan tulang, sedangkan osteoklas bekerja menghambat proses tersebut. Mekanisme ini terjadi untuk menghasilkan proses pembentukan tulang yang benar-benar seimbang. Yang dalam fase ini, tulang-tulang yang terbentuk ialah tulang-tulang rawan “kartilago” yang teksturnya masih sangat lunak dan warnanya masih transparan. Pembentukan Tulang Pada Orang Dewasa Dalam proses pembentukan tulang dari usia bayi sampai usia 25 tahun, tulang manusia akan terus mengeras melalui proses osifikasi. Tulang rawan “kartilago” akan berubah menjadi tulang keras “osteon” yang melalui serangkaian proses panjang tersebut yang sehingga dapat menghasilkan tulang yang dapat berfungsi sempurna untuk menompang aktivitas sehari-hari seperti duduk, berdiri, berlari dan gerakan-gerakan lainnya. Yang dalam proses osifikasi, rongga pada tulang rawan “kartilago” akan terisi osteoblas. Osteoblas akan membentuk sel-sel tulang “osteosit” yang kemudian mengisi pembuluh darah dan serabut syaraf secara melingkar “sistem havers”. Matriks ini lalu akan menghasilkan kapur dan fosfor dan membuat tulang mengeras dan terus tumbuh. Berdasarkan jenis tulang yangb terbentuk, proses pembentukan tulang “osifikasi” pada fase ini dapat dibedakan menjadi 3 yaitu Osifikasi Endokondral Yang merupakan proses pembentukan tulang dari kartilago “tulang rawan”, misalnya pada tulang panjang. Osifikasi Intramembranosus Yang merupakan proses pembentukan tulang dari sel-sel mesenkim, misalnya pada tulang pipih tengkorak. Osifikasi Heterotopik Yang merupakan proses pembentukan tulang yang terjadi di luar jaringan lunak. Baca Juga Kelainan Sistem Gerak Manusia Menurut Ahli Biologi Proses Pembentukan Tulang Osifikasi Manusia memiliki rangka tubuh ketika dalam tahap perkembangan embrio. Rangka tubuh dalam masa embrio masih berupa tulang rawan kartilago. Kartilago dibentuk oleh sel-sel mesenkim. Di dalam kartilago tersebut akan diisi oleh osteoblas. Osteoblas merupakan sel-sel pembentuk tulang keras. Osteoblas akan mengisi jaringan sekelilingnya dan membentuk osteosit sel-sel tulang. Sel-sel tulang dibentuk secara konsentris dari arah dalam ke luar. Setiap sel-sel tulang akan mengelilingi pembuluh darah dan serabut saraf, membentuk sistem Havers. Selain itu, di sekeliling sel-sel tulang ini terbentuk senyawa protein pembentuk matriks tulang. Matriks tulang akan mengeras karena adanya garam kapur CaCO3 dan garam fosfat Ca3PO42. Di dalam tulang terdapat sel-sel osteoklas. Sel-sel ini berfungsi menyerap kembali sel tulang yang sudah rusak dan dihancurkan. Adanya aktivitas sel osteoklas, tulang akan berongga. Rongga ini kelak akan berisi sumsum tulang. Osteoklas membentuk rongga sedangkan osteoblas terus membentuk osteosit baru ke arah permukaan luar. Dengan demikian, tulang akan bertambah besar dan berongga. Proses pembentukan tulang keras disebut osifikasi. Proses ini dibedakan menjadi dua, yaituosifikasi intramembranosa dan osifikasi intrakartilagenosa. Osifikasi intramembranosa disebut juga penulangan langsung osifikasi primer. Proses ini terjadi pada tulang pipih, misalnya tulang tengkorak. Penulangan ini terjadi secara langsung dan tidak akan terulang lagi untuk selamanya. Contoh osifikasi intrakartilagenosa adalah pembentukan tulang pipa. Osifikasi ini menyebabkan tulang bertambah panjang. Baca Juga Fungsi Daun Osifikasi intra membrane Proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang, contohnya pada proses pembentukan tulang pipih. Mesenkim merupakan bagian dari lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah. Tulang tengkorak berasal langsung dari sel-sel mesenkim melalui proses osifikasi intrammebrane. Osifikasi endokondral Proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago jaringan rawan lalu berubah menjadi jaringan tulang, misal proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang belakang, dan pelvis. Proses osifikasi ini bertanggungjawab pada pembentukan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang osteoblas aktif membelah dan muncul di bagian tengah dari tulang rawan yang disbeut center osifikasi. Osteoblas selanjutnya berubah menjadi osteosit, sel-sel tulang dewasa ini tertanam dengan kuat pada mtariks tulang. Sel-sel osteoblas juga menempati jaringan pengikat yang ada di sekeliling rongga. Sel-sel tulang ini mengelilingi saluran haversi yang berisi pembuluh darah kapiler arteri, vena, dan serabut saraf membentuk satu sistem yang disebut sistem havers. Pembuluh darah sistem havers mengangkut zat fosfor dan kalsium menuju matriks sehingga matriks tulang menjadi keras. Kekerasan tulang diperoleh dari kekompakan sel-sel penyusun tulang. Apabila matriks tulang berongga, maka akan membentuk tulang spons, contohnya tulang pipih. Sedangkan, jika matriks tulang menjadi padat dan rapat, maka akan terbentuk tulang keras atau tulang kompak, contohnya tulang pipa. Tulang pipa berbentuk tabung dengan kedua ujung membulat. Sebagian besar terdiri atas tulang kompakta dan sedikit tulang spongiosa serta sumsum tulang pada bagian dalamnya. Rongga sumsum tulang dan rongga tulang spongiosa mengandung sumsum tulang kuning terdiri atas sel lemak dan sumsum tulang merah tempat pembentukan sel darah merah. Proses osifikasi pada tulang pipa terjadi dalam beberapa tahap, yaitu Penulangan diawali dari tulang rawan yang banyak mengandung osteoblas. Bagian yang paling banyak mengandung osteoblas adalah epifisis dan diafisis. Terjadi perkembangan pusat osifikasi primer yang disertai dengan perluasan bone collar. Pada bagian sentral tulang terjadi perombakan sel-sel tulang reabsorpsi tulang sehingga pembuluh darah mulai masuk dan terbentuk rongga sumsum tulang. Pembentukan pusat osifikasi sekunder muncul pada setiap epifisis. Osifikasi sekunder ini menyebabkan pemanjangan tulang. Baca Juga Struktur dan Fungsi Jaringan Akar Menurut Ahli Biologi Proses pembentukan tulang telah bermula sejak umur embrio 6 – 7 minggu dan berlangsung sampai dewasa sekitar umur 30-35 tahun. Berikut adalah gambaran pembentukan tulang Dari grafik, massa tulang mulai tumbuh sejak usia 0. Sampai usia 30-35 tahun tergantung indvidu pertembuhan tulang berhenti, dan tercapai puncak massa tulang. Puncak massa tulang belum tentu bagus, tapi di umur itulah tercapai puncak massa tulang manusia. Bila dari awal proses pertumbuhan asupan kalsium selalu terjaga, maka tercapailah puncak massa tulang yang maksimal. Tapi bila dari awal pertumbuhan tidak terjaga asupan kalsium serta gizi yang seimbang, maka puncak massa tulang tidak masimal. Pada usia 0-30/35 tahun, disebut modeling tulang karena pada massa ini tercipta atau terbetuk model tulang seseorang. Sehingga lain orang, lain pula bentuk tulangnya. Pada usia 30-3 tahun, pertumbuhan tulang sudah selesai, disebut remodeling dimana modeling sudah selesai tinggal pergantian tulang yang sudah tua diganti dengan tulang yang baru yang masih muda. Secara alami, setelah pembetukan tulang selesai, maka akan terjadi penurunan massa tulang. Hal ini bisa dicegah dengan menjaga asupan kaslium setelah tercapainya ouncak massa tulang. Dengan supan kalsium 800-1200 mg per hari, puncak massa tulang ini bisa dipertahankan. Tujuannya adalah untuk mencegah penurunan massa tulang, dimana penurunan massa tulang ini akan mengakibatkan berkurangnya kepadatan tulang, dan tulang akan mengalami osteoporosis. Osteoporosis lebih baik dicegah dengan cara asupan kalsium yang cukup setelah usia 30 atau 35 tahun. Dalam proses pembentukan tulang, tulang mengalami regenerasi, yaitu pergantian tulang-tulang yang sudah tua diganti dengan tulang yang baru yang masih muda, proses ini berjalan seimbang sehingga terbentuk puncak massa tulang. Setelah terbentuk puncak massa tulang, tulang masih mengalami pergantian tulang yang sudah tua dengan tulang yang masih muda, tapi proses ini tidak berjalan seimbang dimana tulang yang diserap untuk diganti lebih banyak dari tulang yang akan menggantikan, maka terjadi penurunan massa tulang, dan bila keadaan ini berjalan terus menerus, maka akan terjadi osteoporosis. Mekanisme Pertumbuhan Tulang Proses pembentukan tulang telah bermula sejak umur embrio 6-7 minggudan berlangsung sampai dewasa. Proses terbentuknya tulang terjadi dengan 2 cara yaitu melalui osifikasi intra membran dan osifikasi endokondral1,2 Osifikasi intra membrane Proses pembentukan tulang dari jaringan mesenkim menjadi jaringan tulang, contohnya pada proses pembentukan tulang pipih. Pada proses perkembangan hewan vertebrata terdapat tiga lapisan lembaga yaiyu ectoderm, medoderm, dan endoderm. Mesenkim merupakan bagian dari lapisan mesoderm, yang kemudian berkembang menjadi jaringan ikat dan darah. Tulang tengkorak berasal langsung dari sel-sel mesenkim melaui proses osifikasi intramembran. Osifikasi endokondral Proses pembentukan tulang yang terjadi dimana sel-sel mesenkim berdiferensiasi lebih dulu menjadi kartilago jaringan rawan lalu berubah menjadi jaringan tulang, misal proses pembentukan tulang panjang, ruas tulang belakang, dan pelvis. Proses osifikasi ini bertanggungjawab pada pembentukan sebagian besar tulang manusia. Pada proses ini sel-sel tulang osteoblas aktif membelah dan muncul di bagian tengah dari tulang rawan yang disebut center osifikasi. Osteoblas selanjutnya berubah menjadi osteosit, sel-sel tulang dewasa ini tertanam dengan kuat pada matriks tulang. Baca Juga Pengertian Zigot Serta Pembentukan Dan Fungsinya Pembentukan tulang rawan terjadi setelah terbentuk tulang rawan kartilago. Mula-mula pembuluh darah menembus perichondrium di bagian tengah batang tulang rawan, merangsang sel-sel perichondrium berubah menjadi osteoblas. Osteoblas ini akan membentuk suatu lapisan tulang kompakta, perichondrium berubah menjadi periosteum. Bersamaan dengan proses ini pada bagian dalam tulang rawan di daerah diatisis yang disebut juga pusat osifikasi primer, sel-sel tulang rawan membesar kemudian pecah sehingga terjadi kenaikan pH menjadi basa akibatnya zat kapur didepositkan, dengan demikian terganggulah nutrisi semua sel-sel tulang rawan dan menyebabkan kematian pada sel-sel tulang rawan. Kemudian akan terjadi degenerasi kemunduran bentuk dan fungsi dan pelarutan dari zat-zat interseluler termasuk zat kapur bersamaan dengan masuknya pembuluh darah ke daerah ini, sehingga terbentuklah rongga untuk sumsum tulang. Pada tahap selanjutnya pembuluh darah akan memasuki daerah epiphise sehingga terjadi pusat osifikasi sekunder, terbentuklah tulang spongiosa. Dengan demikian masih tersis tulang rawan di kedua ujung epifise yang berperan penting dalam pergerakan sendi dan satu tulang rawan di antara epifise dan diafise yang disebut dengan cakram epifise. Selama pertumbuhan, sel-sel tulang rawan pada cakram epifase terus-menerus membelah kemudian hancur dan tulang rawan diganti dengan tulang di daerah diafase, dengan demikian tebal cakram epifase tetap sedangkan tulang akan tumbuh memanjang. Pada pertumbuhan diameter lebar tulang, tulang di daerah rongga sumsum dihancurkan oleh osteoklas sehingga rongga sumsum membesar, dan pada saat yang bersamaan osteoblas di periosteum membentuk lapisan-lapisan tulang baru di daerah permukaan. Anatomi Tulang Tulang yang panjang berbentuk silinder dimana ujungnya bundar dan sering menahan beban berat. Epifisis Epifisis adalah ujung bulat tulang panjang, pada sendi dengan tulang yang berdekatan. Antara epifisis dan diafisis bagian tengah panjang tulang panjang terletak metafisis, termasuk lempeng epifisis lempeng pertumbuhan. Pada sendi, epifisis ditutupi dengan tulang rawan artikular, di bawah penutup yang merupakan zona mirip dengan piring epifisis, yang dikenal sebagai tulang diisi dengan sumsum tulang merah, yang memproduksi eritrosit sel darah merah. Terdapat empat jenis epiphysis Pressure Epiphysis Wilayah tulang panjang yang membentuk sendi disebut Pressure Epiphysis. Misalnya kepala femur yang merupakan bagian dari kompleks sendi panggul adalah Pressure Epiphyis. Epifesis ini membantu dalam transmisi berat dari tubuh manusia dan merupakan daerah tulang yang berada di bawah tekanan selama gerakan, atau gerak makanya diberi nama Pressure Epiphysis. Contoh lainnya adalah kepala humerus yang merupakan bagian dari kompleks bahu. Baca Juga Penjelasan Letak Serta Fungsi Gen Pada Suatu Organisme Lengkap Traction Epiphysis Daerah-daerah tulang panjang yang non-artikular, yaitu, tidak terlibat dalam pembentukan sendi disebut sebagai Traction Epiphysis. Berbeda dengan dengan Pressure Epiphysis, daerah ini tidak membantu dalam transmisi berat badan. Namun, kedekatannya ke Pressure Epiphysis berarti bahwa ligamen pendukung dan tendon melampirkan ke daerah-daerah tulang. Traction Epiphysis mengeras lebih lama daripada Pressure Epiphysis. Contoh epifesis ini adalah tuberkel dari humerus Greater Tubercle dan Lesser Tubercle, trochanter dari Femur kedua Greater dan Lesser Tubercle. Atavastic Epiphysis Homo Sapiens berevolusi dari menjadi empat kaki ke dua kaki, makanya anggota badan bawah menjadi lebih kuat dan tangan menjadi bebas dan tidak terlibat terlalu aktif dalam pergerakan. Ini menyatu tulang-tulang tertentu bersama-sama karena perubahan fungsi dari generasi. Tulang yang menyatu ini disebut sebagai Atavastic Epiphysis. Contoh dari hal ini adalah proses coracoid skapula yang telah menyatu pada manusia tetapi terpisah dalam hewan berkaki empat. Abberent Epiphysis Epifesis yang penyimpangan dari norma dan tidak selalu hadir. Misalnya epifesis di kepala tulang metakarpal pertama. Diafisis Diafesis adalah bagian utama dan bagian tengah tubuh poros dari tulang panjang. Hal ini terdiri dari tulang kortikal dan biasanya berisi sumsum tulang dan jaringan adiposa lemak. Ini adalah tubular bagian tengah yang terdiri dari tulang kompak yang mengelilingi rongga sumsum sentral yang berisi sumsum merah atau kuning. Dalam diafesis, osifikasi primer terjadi. Metafisis Metafisis adalah luas bagian tulang panjang yang berdekatan dengan lempeng epifisis. Metafisis adalah bagian dari tulang yang tumbuh selama masa kanak-kanak. Selama pertumbuhan, ia mengeras berdekatan diafesis dan epifesis. Pada kira-kira 18 sampai 25 tahun, metafisis berhenti tumbuh sama sekali dan benar-benar mengeras menjadi tulang padat. Lempeng epifisis lempeng pertumbuhan yang terletak di metafisis bertanggung jawab untuk pertumbuhan kepanjangan tulang. Baca Juga Penjelasan Proses Pembentukan Sel Sperma Dan Sel Telur Komplikasi Sebagian besar patah tulang lempeng epifisis sembuh tanpa komplikasi. Namun faktor-faktor berikut dapat meningkatkan risiko pertumbuhan tulang bengkok atau terhambat. Keparahan cedera Jika lempeng epifisis telah bergeser, hancur atau dihancurkan, risiko deformitas ekstremitas yang lebih besar. Usia anak. Anak-anak muda memiliki waktu pertumbuhan dan perkembangan yang lebih lama berbanding dengan dewasa. Maka jika lempeng epifisis rusak secara permanen, kesempatan untuk deformitas berkembang lebih banyak. Jika seorang anak hampir selesai tumbuh, kerusakan permanen pada lempeng epifisis dapat menyebabkan deformitas yang minimal. Lokasi cedera Pertumbuhan piring sekitar lutut lebih sensitif terhadap cedera. Sebuah fraktur lempeng pertumbuhan pada lutut bisa menyebabkan kaki menjadi pendek atau bengkok jika lempeng pertumbuhan memiliki kerusakan permanen. Cedera lempeng pertumbuhan sekitar pergelangan tangan dan bahu biasanya sembuh tanpa masalah. Prognosis Faktor yang membantu untuk mengestimasi prognosis dari Tipe Cedera Penyembuhan injuri lempeng epifisis, setelah reduksi pemisahan epifisis, pada injuri tipe I, II, dan III, osifikasi endokondral bagian metafisis pada lempeng epifisial hanya pada gangguan sementara. Dalam 2 atau 3 minggu penggantian dari epifisis, ossifikasi endokondral telah menyatu dengan lempeng epifiseal menuju ke metafisis. Tipe khusus dari penyembuhan fraktur untuk observasi klinik adalah tiga tipe. Penyembuhan pemisahan epifisis hanya dalam setengah dari waktu yang dibutuhkan untuk penyatuan fraktur lewat metafisis pada tulang yang sama pada anak dengan umur yang sama. Cedera tipe IV, sebaliknya dapat sembuh dengan cara yang sama seperti fraktur lainnya dengan tulang cancellous, dan tipe V pada umumnya sembuh dengan bony bridge yang menyambungkan lempeng epifisial. Baca Juga Penjelasan Proses Perkembangan Embrio Pada Manusia Secara lengkap Umur anak Umur anak adalah indikasi espektasi jumlah pertumbuhan normal pada lempeng epifisial tertentu,semakin muda usia anak pada masa cedera semakin serius gangguan pertumbuhan yang dapat terjadi Suplai darah pada epifisis Gangguan aliran darah ke epifisis diikuti oleh buruknya prognosis . Metode reduksi Terlalu kuatnya manipulasi penutupan atau ketidak-ahlian penolong dalam melakukan reduksi terbuka pada epifisis yang tidak pada tempatnya bisa meremukkan lempeng epifisis dan meningkatkan gangguan pertumbuhan anak Cedera terbuka atau tertutup Cedera terbuka pada epifisis menyebabkan resiko infeksi yang dapat merusak lempeng dan menyebabkan penghentian dini pertumbuhan. Kecepatan dan kekuatan cedera Tanpa memperhatikan tipe cedera lempeng epifisis , prognosis mengenai kemungkinan penghentian pertumbuhan diperburuk apabila cedera timbul dengan mekanisme kecepatan tinggi dan atau kekuatan tinggi seperti pada kecelakaan automobile atau jatuh dari tempat yang tinggi DAFTAR PUSTAKA dan Penyakit Tulang . Tulang 14 Juli 2013 of the Musculo-skeletal System, 3rd edition 2009 page 67 plate fractures. American Academy of Orthopaedic Surgeons 2005. 5. Caine D. Growth Plate Injury and Bone Growth an update. Pediatric Exerc Sci Demikianlah pembahasan mengenai Proses Pembentukan Tulang – Mekanisme, Keras, Rawan & Gambarnya semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂